video Rumah si Pitung dan Pantai Marunda

Elsa dan Olan Akur Part-2

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bagaimana pun rupa dan tabiatnya, saudara tetaplah sedarah. Si Olan ini, ngeyelnya minta ampun, tapi cukup diakui hatinya itu lembut banget. Sekarang dia kuliah di Jogja dan sering banget curhat kalo lagi homesick. Jiaaahh, dulu aja waktu masih satu rumah berantem mulu kami! Senggol bacoklah pokoknya. Haha

Baiklah, perjalanan kakak-beradik ini berlanjut lagi. Dibantu bau amis khas pantai Jakarta kala itu, sampailah kami di Pantai Marunda. Setelah memarkirkan kendaraan kami beranjak menuju pantai dengan melewati warung-warung milik warga nelayan. Saat itu si Olan mulai memberi sinyal. Dia nanya, “Lo nggak laper, mbak?” Lalu hadirlah hidangan kerang hijau di hadapan. Olan mulai senang dan bercerita banyak hal. Dan bagiku, ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan petuah sebagai seorang yang bercita-cita menjadi kakak baik hati. (Preeettt banget sumpah, wkwkwk)

Makan kerang dan ngemil kerupuk ternyata tak jua membuat perut kami puas. Namun, karena duit yang terbatas, kami memutuskan untuk makan di sore hari nanti setelah puas bermain.

Setapak demi setapak kami lalui. Kata demi kata tercurah dengan nada mengomentari. Sekilas Pantai Marunda memang terlihat kumuh dan kotor, namun jika diresapi, sesungguhnya suasana sepi dengan angin menyejukkan seperti ini yang kami butuhkan di saat penat. Kami pun mulai terjun, menyusuri pinggiran pantai dengan pasir abu-abu yang telihat sedikit kasar. Terlihat juga beberapa masyarakat yang menikmati pantai dengan wajah puas. Awalnya kami bertanya, mana serunya? Airnya saja hitam, laiknya pantai di pinggiran Jakarta lainnya.

Langit kala itu sangat cerah menawan. Di bawahnya terdapat beberapa anak kecil yang sibuk mencari kerang sambil bermain air. Hal itu menggelitik kami untuk ikut bermain. Dan bener saja, nggak lama kemudian kami nyemplung dan ikut memungut kerang yang tersebar di pesisir pantai. Susah-susah gampang, sih. Apalagi kalo nggak hati-hati bisa terkena serpihan sampah Jakarta yang tajam.

Berjam-jam kami bermain di pantai hingga lupa kalo matahari akan segera beristirahat. Sinar mentari berpendar kuning jingga menghiasi langit Pantai Marunda. Beneran deh, ini salah satu sunset terbaik yang pernah aku lihat di tanah Jakarta. Walau sesekali kami sedikit bergesekan, tapi tak mengurangi sedikitpun rasa bahagian. Olan senang, aku senang. Waktu bermain sudah usai. Saatnya pulang dan makan kerang!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s