Camping Ceria di Pulau Pari

10350431_10204137960201905_6924239300167047173_n

Serunya kehangatan tawa, cacian, dan makian di Pulau Pari terngiang kembali. Yup, Pulau Pari telah menjadi tempat sejuta kenangan yang terlukis manis hanya dalam waktu dua hari semalam. Dan siapa sangka, itu menjadi tempat terakhirku kemping cantik bersama teman teraneh sepanjang sejarah hidup.

Mereka adalah Uyab, Rendi, Tholib, Cesar, Harin dan Ismail Hamka. Kecuali Ismail Hamka dan Harin, mereka semua adalah senior waktu di bangku SMA. Ismail adalah teman seangkatan. Sementara Harin adalah istri dari Cesar. Berkat Harin aku jadi bisa bergabung dalam perjalanan penuh suka cita pada waktu itu.

Pertemanan ini memang bukan tipikal pertemanan yang romantis, namun kisahnya selalu menjadi salah satu yang paling dirindukan. Seperti hari ini, aku rindu mereka sejadi-jadinya. Tapi apa daya, aktifitas, jarak dan waktu telah memisahkan kita.  Cesar dan Harin udah punya dedek bayi, Uyab udah ada istri dan berada jauh di Papua sana, Rendi udah lamaran dan lagi sibuk nyari uang di Bandung, Ismail sibuk kuliah di Itali dan Tholib? Lu sibuk apa si, kak? Aku rasa sih selain sibuk sebagai banker dia juga sibuk menjadi penggila berat Raisa. Ya, sepertinya begitu.

canon-eos-60d2459
Potret kebahagiaan sederhana bersenda gurau di pinggir pantai

Waktu subuh di Muara Angke

Petualangan di mulai dari kamar apartemen Rendi yang terletak tidak jauh dari Muara Angke. Setelah solat subuh, kami bergegas menuju pelabuhan yang sudah mulai ramai meski masih sangat pagi. Sesampainya di pelabuhan kami sudah disambut dengan barisan kapal-kapal feri yang siap mengantarkan penumpang ke pulau-pulau yang ada di kepulauan seribu. Waktu itu tahun 2013, biaya menyebrang ke Pulau Pari sebesar tiga puluh ribu. Sekarang harganya konon naik sekitar 40 sampai 50 ribu.

Waktu tempuh perjalanan untuk mencapai Pulau Pari sekitar dua jam. Demikian cukup membuat Rendi terkapar akibat mabuk laut. Sementara bagi Cesar dan Harin, itu merupakan waktu mereka bersenda gurau ala pengantin baru. Uyab dan Tholib lebih memilih duduk di dek luar dekat nahkoda. Sementara Ismail? Entah ngapain ya lu il waktu itu? Sekejap dia terhapus dari ingatan. Haha.

Jejak Petualangan di Pulau Pari

Secercah sinar tersirat di bola mata ketika kaki-kaki ini mendarat di pulau tujuan. Uyab dan Ismail 10653627_10205135077240186_5985763702714850740_nberlarian laiknya bocah yang baru dapat mainan. Cesar dan Harin… ah sudahlah, mereka sibuk membuatku baper. Tholib, Rendi dan Aku? Kami terduduk dengan rasa antara lelah dan takjub.

Kemudian kami beranjak dari pelabuhan menuju Pantai Pasir Putih Perawan. Untuk memasuki area ini harus membayar biaya retribusi sebesar 5 ribu, dan karena kami mau kemping di sana ditambah lagi biaya 10 ribu untuk satu orang (Sekarang naik jadi 15 ribu per malam).

10402523_10205135133441591_4946814056121871444_n

Tidak butuh waktu lama untuk mendirikan tenda bagi Uyab, Cesar dan Tholib. Kami memilih lokasi di bawah pohon di mana kami bisa bermain ayunan dan menjemur pakaian.

Makanan kami masak sendiri menggunakan alat seadanya.Beberapa cemilan siap santap juga sudah disiapkan. Nah, masalahnya, setiap ada pemasukan pasti ada pengeluaran dong. Lalu gimana nih kalo mau buang air atau mandi? Di dekat area kemah ada canon-eos-60d2451warung-warung kecil yang di belakangnya terdapat WC Umum. Untuk sekali buang air kecil kami mesti bayar 2 ribu dan empat ribu untuk mandi. Oh ya, di warung-warung itu kami bebas untuk numpang ngecarge hape, loh. Jadi aman deh kalo kalian mau tetep update selama liburan berlangsung.

Hamparan pasir putih, birunya air laut, deburan ombak serta angin yang berhembus mesra menjadi pengiring setiap aktifitas kami. Suasana di sana menentramkan hati ketika solat, membentuk garis senyum di bibir kami, dan memancing kaki kami untuk menjelajah menyusuri pantai nan indah ini.

Waktu itu kami memilih untuk menyewa kano dari pada snorkeling. Harganya 10 ribu satu kano, namun bisa ditawar jadi 25 ribu untuk tiga kano (sekarang harganya 15 ribu satu kano).

canon-eos-60d2426
Ismail, Tholib, Uyab, Rendi seusai saling berjibaku menuju sebrang.

Di sebrang Pantai Perawan terdapat pulau kecil. Nah, waktu itu kami mengadakan lomba dulu-duluan untuk sampai ke sebrang. Tim Satu terdiri dari Uyab dan Ismail, Tim Dua terdiri dari Cesar dan Harin, sementara sisanya, aku, Tholib, dan Rendi bergabung di Tim Tiga.

 

Perlombaan dimulai, Tim Satu dan Tim Tiga sudah mulai melaju. Tapi apa kabar dengan Tim dua? Sayangnya kano mereka tidak dapat berjalan, bahkan tenggelam. Ditanya kenapa? Dilihat dari kondisinya waktu itu dapat disimpulkan bahwa kano yang ditumpangi Tim Dua tidak mampu menopang berat badannya Cesar yang amat sangat super besar. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berduaan di pinngir pantai. Wadidaw aww awww, cih!

canon-eos-60d2415
wefie bersama di atas kano. Keep sportive and alay. Yes!

Pulau kecil telah tersebrangi, tapi lupa ya waktu itu siapa yang menang. Yang teringat hanya kegilaan kami mebuat video-video mistis di pulau tersebut. Sebenarnya nggak ada apa-apa, sih. Cuma ada bekas bangunan yang sudah tidak utuh lagi.

Hangatnya langit senja Pantai Perawan

Kilau matahari sudah tak seterik sebelumnya. Bulatan berwarna jingga itu semakin bergerak ke ufuk barat. Indahnya tak perlu ditanya, kami terpesona untuk beberapa saat, lalu terburu-buru mengabadikan sebelum sinarnya habis ditelan malam.

Keindahan langit pagi di Pulau Pari

Jika sebelumnya kami terpukau dengan semburat langit senja di sore hari, keesokan harinya kami terpana dengan pemandangan terbitnya matahari di pulau ini. Terlihat kapal-kapal nelayan masih terparkir di pinggiran, sepi belum lagi romantis.

canon-eos-60d2502

Waktu dua hari semalam kami telah sampai diujungnya. Kapal feri menjemput di pelabuhan Pulau Pari jam sepuluh pagi. Puas tentu puas, bahkan nagih. Namun apa daya keadaan belum dapat menuntun kami untuk kembali berpetualang hingga saat ini.

10711094_10205135205923403_3251184150410258226_n
Menuju pelabuhan

Biaya yang kami habiskan untuk kemping ceria pada waktu itu hanya sebesar 150 ribu per orang, sudah termasuk biaya menyebrang, tiket retribusi dan juga makanan. Sangat murah dan berkesan pokoknya. Oh ya, kalo nggak mau ribet-ribet bawa tenda dari rumah, di sana ada jasa penyewaan tenda, loh. Harganya berkisar 40 ribu.

Semoga kisah kemping ceria ini dapat menginspirasi. Selamat liburan dan bersenang-senang! Yeah!!

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s